Rabu, 08 Mei 2013

GIZI SEIMBANG PADA BALITA



MAKALAH GIZI DALAM KEBIDANAN
GIZI SEIMBANG PADA BALITA, GIZI PADA REMAJA,
GIZI PADA USIA REPRODUKSI

Makalah Ini di Susun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Gizi Dalam Kebidanan
Disusun Oleh :
Kelompok : IV  Kelas : IID

1.     Hildegardis Muing                  (120159)
2.     Nia Fitriani                              (120161)
3.     Siti Rohmah Ujiana                 (120162)
4.     Riana Nedi Dayoma               (120163)
5.     Siti Hadidja Pudi                    (120164)
6.     Ayu Bonita Avianti                (120165)
7.     Yuni Wiwid Resti Roliyah     (120166)
8.     Saniaturrohmah                       (120167)
9.     Sitti Fatimah Yogyandari       (120169)

AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2013
LEMBAR PERSETUJUAN
GIZI SEIMBANG PADA BALITA, GIZI PADA REMAJA,
GIZI PADA USIA REPRODUKSI
Praktikum Mata Kuliah Ilmu Gizi Dalam Kebidanan


Telah disetujui untuk diambil penilaian didepan penguji
Pada Tanggal 25 April 2013



Disusun oleh:
Kelomok IV D Semester II
1.        Hildegardis Muing                (120159)
2.        Nia Fitriani                            (120161)
3.        Siti Rohmah Ujiana               (120162)
4.        Riana Nedi Dayoma              (120163)
5.        Siti Hadidja Pudi                  (120164)
6.        Ayu Bonita Avianti               (120165)
7.        Yuni Wiwid Resti Roliyah    (120166)
8.        Saniaturrohmah                     (120167)
9.        Sitti Fatimah Yogyandari      (120169)


Mengetahui,
Pembimbing


(Cahyaning Setyo Hutomo, SST., M.Kes)
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT  yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusun bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Gizi Seimbang Pada Balita, Gizi Pada Remaja, Gizi Pada Usia Reproduksi”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum gizi dalam kebidanan. Dengan terselesaikannya makalah ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat membantu kami yang tidak bisa diucapkan satu per satu.
Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun makalah ini menjadi lebih baik lagi. Penyusun berharap makalah yang telah dibuat ini bisa bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca.


Yogyakarta, 19 April 2013


Kelompok 4 kelas 2D




                               





DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN  ...................................................................................i
KATA PENGANTAR           ..................................................................................ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang     ..............................................................................................1
B.     Tujuan      ..........................................................................................................3
C.     Manfaat    ..........................................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORI
A.    Konsep Dasar Ilmu Gizi ..................................................................................4
B.     Gizi Seimbang Bagi Balita           ......................................................................5
C.     Gizi Seimbang Pada Usia Remaja           ..........................................................8
D.    Gizi Seimbang Pada Usia Reproduksi     ........................................................15
BAB III PEMBAHASAN    ................................................................................16
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan          ............................................................................................26
B.     Saran        ........................................................................................................26
LAMPIRAN











BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Gizi atau nutrisi merupakan ilmu yang mempelajari perihal makanan serta  hubungannya dengan kesehatan. Konsumsi gizi sangat mempengaruhi status gizi kesehatan seseorang yang merupakan modal utama bagi kesehatan individu. Asupan gizi yang salah atau tidak sesuai akan menimbulkan masalah kesehatan. Lima jenis zat gizi yang harus dipenuhi meliputi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, ada kelmpok ahli gizi yang menambahkan air dan oksigen sebagai zat gizi (Sulistiyoningsih, 2011).
Banyak aspek dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak lahir hingga proses menua, akhir-akhir ini diakui bahwa faktor lingkungan tidak kalah pentingnya dalam menentukan karakteristik manusia. Faktor gizi adalah salah satu faktor lingkungan terpenting yang mempunyai dampak terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan dari tahap pembuahan,  bayi, remaja, dewasa, hingga tua. Perhatian terhadap faktor gizi ini dapat menyebabkan perubahan besar dalam peningkatan mutu kehidupan secara menyeluruh. Untuk ini kita perlu memahami ilmu gizi dan cara penerapannya ke dalam makanan sehari-hari dalam seluruh tahap daur kehidupan (Sunita, 2011).
Masa balita adalah periode perkembangan fisik dan mental yang pesat. Pada masa ini otak balita ibu telah siap menghadapi berbagai stimulan seperti belajar berjalan dan berbicara dengan lancar. Masa balita juga merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram  berta badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur paling sering menderita akibat kekurangan gizi. Anak-anak periode usia ini tetap mempunyai dorongan pertumbuhan yang biasanya bertepatan dengan periode peningkatan nafsu makan. Ketika memasuki periode pertumbuhan yang lambat, nafsu makan seorang anak juga akan berkurang. Adanya variasi dalam hal nafsu makan dan asupan makanan pada balita harus dipahami oleh para orang tua agar dapat memberikan respon yang baik terhadap setiap kondisi yang terjadi pada anak (Hariyani, 2011).
Periode adolesensia ditandai dengan pertumbuhan yang cepat, baik tinggi maupun berat badannya. Kebutuhan zat gizi sangat berhubungan dengan besarnya tubuh, hingga kebutuhan gizi yang tinggi terdapat pada periode pertumbuhan yang cepat. Growth spurt pada perempuan sudah dimulai pada umur antara 10 dan 12 tahun, sedangkan pada anak laki-laki  pada umur 12-14 tahun. Pertumbuhan yang cepat ini biasanya diiringi oleh bertumbuhnya aktivitas fisik sehingga kebutuhannya naik pula. Nafsu makan anak laki-laki sangat bertambah hingga tidak akan menemukan kesukaran untuk memenuhi kebutuhannya. Anak perempuan biasanya lebih mementingkan penampilannya, ia tidak menginginkan gemuk sehingga membatasi diri dengan memilih makanan yang tidak banyak mengandung energy, tidak mau makan pagi. Mereka harus diyakinkan bahwa masukan gizi yang kurang berakibat buruk bagi pertumbuhan maupun kesehatannya (Erna, et all, 2005).
Gizi atau makanan tidak saja diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan fisik dan mental serta kesehatan, tetapi diperlukan juga untuk fertilisasi atau kesuburan seseorang agar mendapatkan keturunan yang selalu didambakan dalam kehidupan berkeluarga. Kehadiran buah hati akan memberikan kebahagiaan dan keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga dan akan menjadi pelengkap dalam sebuah keluarga. Pada saat pasangan suami istri memutuskan mempunyai anak, perlu mempersiapkan diri di antaranya mengatur asupan nutrisi yang adekuat untuk meningkatkan fungsi reproduksi sehingga dapat menunjang fertilitas atau kesuburan (Neil, 2001).
Status gizi di Rt 07 desa Prancak Glondong khususnya balita cukup bagus, karena gizi mereka sudah terpenuhi dengan baik. Akan tetapi ada satu anak yang mengalami kurang gizi. Tokoh masyarakat setempat memberikan upaya pertolongan dengan memberikan vitamin pada saat posyandu dan puskesmas memberi bantuan makanan setiap 3 bulan sekali. Untuk gizi masyarakat yang lain sudah cukup bagus, karena mereka aktif dalam kegiatan posyandu dan kesadaran pengetahuan mereka tentang pentingnya kesehatan cukup bagus.

B.     Tujuan
1.   Tujuan Umum
Keluarga mampu mengerti kebutuhan gizi pada balita, remaja dan usia reproduksi.
2.   Tujuan Khusus
a.    Keluarga dapat mengerti kebutuhan gizi seimbang pada usia balita.
b.    Keluarga dapat memahami penyusunan menu yang baik.
c.    Keluarga dapat mengetahui manfaat gizi seimbang bagi balita, remaja dan usia reproduksi.

C.    Manfaat
1.   Bagi mahasiswa
Agar mahasiswa dapat menerapkan konsep gizi seimbang dalam dunia kebidanan.
2.   Bagi masyarakat
Agar keluarga dapat  menerapkan manfaat gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari.










BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Konsep Dasar Ilmu Gizi
Definisi ilmu gizi pada awalnya adalah ilmu yang mempelajari nasib makanan sejak mulai ditelan sampai di ubah menjadi bagian tubuh dan energi atau di eksresikan sebagai sisa. Pengertian ini kemudian berkembang seiring dengan tujuan akhir ilmu gizi yaitu untuk mencapai, memperbaiki, dan mempertahankan kesehatan tubuh melalui konsumsi makanan (Sulistiyoningsih, 2011).
Menurut Sulistiningsih (2011), definisi ilmu gizi yang digunakan sekarang adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang mempelajari tentang makanan dikaitkan dengan kesehatan tubuh. Definisi ini memungkinkan kajian dan ruang lingkup ilmu gizi menjadi lebih luas, tidak terbatas pada makanan yang dikonsumsi. Istilah lain yang berkaitan dengan gizi dan penting dipahami diantaranya:
1.    Zat gizi
Adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses-proses kehidupan.
2.    Gizi
Adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan, untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilakan energi.
3.    Pangan
Adalah istilah umum untuk semua bahan yang dapat dijadikan makanan, baik dalam kondisi mentah atau matang, hasil olahan ataupun bahan mentah.

4.    Makanan
Adalah bahan selain obat yang mengandung zat gizi dan atau unsur-unsur/ikatan kimia yang dapat di ubah menjadi zat gizi oleh tubuh, dan berguna bila dimasukkan ke dalam tubuh.
5.    Bahan makanan
Adalah makanan dalam keadaan mentah (belum mengalami proses pengolahan).
6.    Status gizi
Adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.

B.     Gizi Seimbang Bagi Balita
Menurut Sulistiyningsih (2011), pemenuhan kebutuhan gizi pada balita meliputi:
1.      Kebutuhan gizi balita
Kebutuhan masing-masing zat gizi untuk kelompok balita dapat kita lihat pada angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Selain zat gizi esensial, kebutuhan cairan juga harus diperhatikan karena penting bagi anak untuk mencegah dehidrasi selama bergerak dan berolahraga, karena anak-anak beresiko stres akibat dehidrasi dan panas. Anak-anak berkeringat dan semakin kepanasan saat bergerak. Beberapa jenis olahraga seperti sepak bola dan hoki yang membuat tubuh lemas. Mekanisme haus mungkin tidak bekerja selama balita beraktifitas dan tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan air. Sebaiknya tidak memberikan softdrink dan jus buah yang tidak di encerkan kepada anak-anak karena pemberian karbohidrat tinggi dapat menyebabkan kram perut, mual, dan diare.
Perilaku dan kebiasaan makan balita sangat dipengaruhi oleh orangtua dan orang tua terdekatnya. Perilaku makan yang tidak sehat akan menyebabkan pemenuhan kebutuhan gizi yang tidak sesuai sehingga akan menimbulkan pemenuhan gizi yang tidak sesuai sehingga akan menimbulkan permasalahan permasalahan gizi dan kesehatan pada balita dan anak.
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi gizi balita
a.    Pengaruh ibu                            
Kurangnya pengetahuan ibu dan keterampilan yang mempengaruhi gizi di bidang memasak, konsumsi anak, keragaman bahan makanan.
b.    Prasangka buruk                      
Anggapan terhadap jenis makanan tertentu yang bisa mempengaruhi gizi, misalnya anggapan terhadap anak kecil yang suka makan ikan bisa menyebabkan cacingan.
c.    Pantangan                                
Pantangan terhadap makanan tertentu yang telah menjadi kebiasaan yang mempengaruhi gizi, misal pantangan terhadap anak yang suka makan daging yang biasanya yang terjadi di daerah pedesaan.
d.   Kesukaan yang berlebihan       
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan tertentu yang mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan. Misal kesukaan yang berlebihan terhadap coklat.
e.    Jarak kelahiran yang terlalu cepat           
Jarak antara dua kelahiran yang terlalu rapat yaitu kurang dari 1 tahun.
f.     Sosial ekonomi                        
Tingkat  penghasilan keluarga yang mempengaruhi status gizi kurang pada balita yang dihubungkan dengan jumlah anggota keluarga.
g.    Penyakit pada anak                 
Penyakit yang diderita pada anak yang menyebabkan terganggunya status gizi balita.
3.      Prinsip gizi seimbang balita
Masa balita adalah periode perkembangan fisik dan mental yang pesat. Pada masa ini otak balita ibu telah siap menghadapi berbagai stimuli seperti belajar berjalan dan berbicara lebih lancar. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini, bersifat irreversible (tidak dapat pulih). Ada usia balita juga membutuhkan gizi seimbang yaitu makanan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sesuai umur. Makanan seimbang pada usia ini perlu diterapkan karena akan mempengaruhi kualitas pada usia dewasa sampai lanjut.
4.      Pengelolaan bahan makanan untuk balita
Pemberian makanan balita sebaiknya beraneka ragam, menggunakan makanan yang telah dikenalkan sejak bayi usia enam bulan yang telah diterima oleh bayi, dan dikembangkan lagi dengan bahan makanan sesuai makanan keluarga. Pemberntukan pola makanan perlu diterapkan sesuai pola makanan keluarga. Peranan orang tua sangat dibutuhkan untuk membentuk perilaku makan yang sehat. Seorang ibu dalam hal ini harus mengetahui, mau dan mampu menerapkan makan yang seimbang atau sehat dalam keluarga karena anak akan meniru perilaku makan dari orang tua dan orang-orang disekelilingnya dalam keluarga.
Makanan selingan tidak kalah pentingnya dengan apa yang diberikan pada jam diantara makanan pokoknya. Makanan selingan dapat membantu jika anak tidak cukup menerima porsi makan karena anak susah makan. Namun pemberian yang berlebihan pada makanan selingan pun tidak baik karena akan mengganggu nafsu makannya.
Jenis makanan selingan yang baik adalah yang mengandung zat gizi lengkap yaitu sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral, seperti arem-arem nasi isi daging sayuran, tahu isi daging sayuran, roti isi ragout ayam sayuran, pizza dan lain-lain.
Fungsi makanan selingan adalah :
a.       Memperkenalkan aneka jenis bahan makanan yang terdapat dalam bahan makanan selingan.
b.      Melengkapi zat-zat gizi yang mungkin kurang dalam makanan utamanya (pagi, siang, dan malam).
c.       Mengisi kekurangan kalori akibat banyaknya aktifitas anak pada usia balita.
5.      Menu seimbang balita
a.       Karbohidrat
Seperti nasi, roti, sereal, kentang atau mie.
b.      Buah dan  Sayur
Seperti pisang, pepaya, jeruk, tomat, dan wortel. Jenis sayuran beragam mengandung zat gizi yang berbeda.
c.       Susu dan Produk Olahan Susu
Susu pertumbuhan, produk olahan susu seperti susu dan yoghurt. Pastikan balita ibu mendapatkan asupan kalsium yang cukup dan konsumsi susunya.
d.      Protein
Seperti ikan, susu, daging, telur, dan kacang-kacangan.
e.       Lemak dan Gula
Seperti yang terdapat dalam minyak, santan, dan mentega, roti, dan kue juga mengandung Omega 3 dan 6 yang penting untuk perkembangan otak.

C.    Gizi Seimbang Pada Usia Remaja
Menurut Sulistiyoningsih (2011), pemenuhan gizi seimbang pada usia remaja meliputi:
1.      Kebutuhan zat gizi untuk remaja
Terpenuhnya kebutuhan zat gizi adalah hal yang mutlak diperlukan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Beberapa alasan yang mendasari masa remaja membutuhkan banyak zat gizi adalah:
a.       Secara fisik terjadi pertumbuhan yang sangat cepat ditandai dengan peningkatan berat badan dan tinggi badan.
b.      Mulai berfungsi dan berkembangnya organ-organ reproduksi. Jika kebutuhan gizi tidak diperhatikan maka akan merugikan perkembangan selanjutnya. Terutama pada perempuan karena akan menyebabkan menstruasi tidak lancar, gangguan kesuburan, rongga panggul tidak berkembang sehingga sulit ketika melahirkan, kesulitan pada saat hamil, serta produksi asi tidak bagus. Perempuan yang fisiknya tidak pernah tumbuh sempurna karena kurang zat gizi juga beresiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah.
c.       Remaja umumnya melakukan aktivitas fisik lebih tinggi di banding usia lainnya sehingga diperlukan zat gizi yang lebih banyak.
Penentuan kebutuhan zat gizi remaja secara umum didasarkan pada angka kecukupan gizi yang diajurkan untuk di Indonesia. Berikut ini beberapa kebutuhan zat gizi remaja :
a.       Energi
Faktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebutuhan energi adalah aktivitas fisik seperti olahraga. Remaja yang banyak melakukan olahraga memerlukan asupan energi yang lebih banyak dibandingka yang kurang efektif.
b.      Protein
Sumber protein sangat diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan badan, pembentukan jaringan-jaringan baru dan pemeliharaan tubuh. Protein juga berguna untuk menjernihkan pikiran dan meningkatkan konsentrasi kecerdasan. Kebutuhan protein pria pada akhir masa remaja lebih tinggi dibanding perempuan karena perbedaan komposisi tubuh.
c.       Lemak
Lemak berguna sebagai cadangan energi, pelarut vitamin A, D, E dan K, pelumas persendian, pertumbuhan dan pencegahan peradangan kulit dan pemberi cita raqsa pada makanan.
d.      Vitamin
Kebutuhan vitamin pada masa remaja meningkat karena pertumbuhan dan perkembangan cepat terjadi. Karena kebutuhan energi meningkat maka kebutuhan beberapa vitamin pun meningkat.
e.       Mineral
Mineral sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan selama masa pertumbuhan remaja. Berikut ini mineral yang dibutuhkan oleh remaja:
1)      Kalsium
Kebutuhan kalsium pada remaja relatif tinggi karena akselerasi muskular skeletal dan perkembangan endokrin lebih besar dibandingkan masa anak dan dewasa.
2)      Besi (fe)
Kebutuhan zat besi pada remaja juga menigkat karena terjadinya pertumbuhan cepat. Kebutuhan besi pada remaja pria untuk ekspansi volume darah dan peningkatan konsentrasi hemoglobin.
3)      Seng (Zn)
Seng diperlukan untuk pertumbuhan serta kematangan seksual remaja terutama untuk remaja pria. Pertumbuhan fisik dan kematangan seksual pada remaja yang kekurangan seng akan terhambat.
2.      Fakto-faktor yang mempengaruhi gizi pada remaja
Faktor yang mempengaruhi gizi pada remaja adalah seagai berikut:
a.       Kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau pengetahuan tentang zat gizi
b.      Bawaan sejak lahir atau genetik
c.       Penyalahgunaan obat-obatan, kecanduan alkohol, dan rokok, hubungan seksual terlalu dini
d.      Konsumsi makanan seperti tablet Fe atau makanan mengandung zat besi (defisiensi Fe)
e.       Ketidakseimbangan asupan dan keluaran
f.       Kempuan daya beli keluarga
g.      Pengetahuan tentang gizi
h.      Anggapan yang salah, kepala keluarga lebih diutamakan dibandingkan anak dalam pemberian makanan
i.        Pekerjaan
Data terbaru dari kesehatan nasional dan survey pengujian ilmu gizi (NHNES) menyatakan bahwa konsumsi energi wanita dari umur 11 sampai 51 tahun bervariasi, dari kalori yang rendah (sekitar 1329) sampai kalori yang tinggi (1958 kalori).
Konsumsi makanan wanita perlu mempertimbangkan kadar lemak kurang dari 30% dan tinggi kalsium sekitar 800-1200 mg/hari. Rata-rata RDA kebutuhan kalsium 1000 mg. Selain itu, wanita juga harus memperhatikan unsur sodium, cara pengolahan makanan dan para wanita perlu membatasi makanan kaleng atau makanan dalam kotak.
3.      Prinsip-prinsip gizi seimbang pada remaja
Remaja merupakan usia peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada usia remaja banyak perubahan yang terjadi. Selain perubahan fisik karena mulai matangnya sistem hormonal dalam tubuh mereka, sehingga mempengaruhi komposisi tubuh. Perubahan-perubahan itu berlangsung sangat cepat baik pertumbuhan tinggi maupun berat tubuhnya. Hal ini sering disebut masa pubertas dan keadaan ini sangat mempengaruhi kebutuhan gizi dari makanan  mereka.
Selain itu, pada usia remaja cenderung memiliki banyak aktivitas yang berpengaruh pada jumlah energi yang dibutuhkan tubuh. Remaja sering merasa lapar dan seringkali juga tidak memikirkan jenis makanan yang mereka makan asalkan mengenyangkan.
Pada usia remaja tumbuh kembang tubuh berlangsung lambat bahkan akan terhenti menjelang usia 18 tahun, hal itu tidak berarti faktor gizi pada usia ini tidak memerlukan perhatian lagi. Sifat energik pada usia remaja menyebabkan aktivitas fisik tubuh meningkat sehingga kebutuhan energi juga akan meningkat.
Selain itu keterlambatan tumbuh kembang tubuh pada usia sebelumnya akan dikejar pada usia ini. Itu berarti pemenuhan kecukupan gizi sangat penting agar tumbuh kembang tubuh berlangsung dengan sempurna. Rentang usia pertumbuhan remaja biasanya yaitu :
a.       Anak laki-laki : usia 10 – 13 tahun
b.      Anak perempuan : usia 9 – 15 tahun
Rentang usia diatas tidak selalu sama pada masing-masing individu. Ada yang berlangsung cepat dan ada yang berlangsung lambat bergantung pada kecepatan aktivitas hormonal mereka. Semakin cepat pertumbuhannya dapat mempengaruhi aktivitas fisik mereka sehingga juga berpengaruh pada asupan gizi yang mereka butuhkan.
Status gizi remaja harus dinilai secara perorangan, baik sacara klinis, antropometri, maupun secara psikososial. Ilmuwan Wait dkk menyatakan bahwa kebutuhan kalori pada remaja dapat diukur melalui tinggi badannya yaitu usia 11-18 tahun 13-23 kkal/cm untuk remaja putra, sedangkan remaja putri 10-19 kkal/cm.
a.       Menstruasi
Pada remaja wanita, masa pubertas seringkali ditandai dengan menarche atau menstruasi untuk yang pertama kali. Ini menandakan bahwa aktivitas hormonal dan organ-organ reproduksi di dalam tubuhnya sudah matang. Rentang usia remaja wanita menarche yaitu pada usia 10-14 tahun, untuk cepat atau lambatnya tindak semua remaja sama.
b.      Mimpi Basah
Pada remaja pria, masa puberta seringkali ditandai dengan mimpi basah/keluarnya sperma untuk yang pertama kali. Hal ini menandai bahwa aktivitas hormonal dan sistem reproduksi sudah matang. Rentang usia remaja pria mengalami mimpi basah yaitu usia 11-13 tahun, untuk cepat ataupun lambat tidak semua remaja pria sama.
4.      Pengelolaan bahan makanan untuk remaja
Menu dapat terdiri dari satu macam hidangan yang lengkap atau tidak lengkap, juga dapat berupa hidangan untuk makan atau sarapan pagi untuk makan siang atau makan malam saja ataupun hidangan makan untuk satu hari penuh. Berikut langkah-langkah menyusun menu:
a.       Buat suatu pola dan susunan menu untuk suatu jangka waktu yang diinginkan misal 3 hari.
b.      Mula-mula cantumkan makanan pokok dalam daftar menu tersebut dan buat variasi untuk penganekaragaman.
c.       Cantumkan lauk pauk, dipilih dari protein yang berasal dari hewani dan dari tumbuh-tumbuhan.
d.      Cantumkan sayuran, usahakan setiap hari menggunakan sayuran yang berwarna hijau.
e.       Kemudian cantumkan buah, pengguaan sayuran dan buah yang sedang musim akan sangat menbantu masalah biaya.
f.       Terakhir cantumkan makanan selingan, usahakan menggunakan beranekaragam bahan makanan misalnya pecel, bubur kacang hijau dan kolak ubi.
Angka kecukupan gizi untuk remaja laki-laki dengan kelompok umur 16-18 tahun membutuhkan energi sebanyak 2600 Kkal dan protein sebanyak 65 gram. Sedangkan untuk wanita usia 16-18 tahun membutuhkan energi sebanyak 2200 Kkal dan protein sebanyak 50 gram. Anjuran makanan dalam satu hari untuk laki-laki usia remaja yaitu 4 porsi x 200 gram nasi, 1 porsi x 50 gram lauk hewani dan 3 porsi x 25 gram lauk nabati, 1,5 porsi x 100 gram sayur, 2 porsi x 100 gram buah. Sedangkan untuk wanita remaja membutuhkan 4 porsi x 200 gram nasi, 1 porsi x 50 gram lauk hewani dan 3 porsi x 25 gram lauk nabati, 1,5 porsi x 100 gram sayur dan 2 porsi x 100 gram buah.
5.      Menu seimbang remaja
a.       Contoh menu untuk remaja lelaki (2,700 kilokalori)
1)      Sarapan:
1 ½ mangkuk nasi
 ½ telur rebus 
2 ½ sendok besar sambal ikan teri
 4 iris timun 
1 gelas susu rendah lemak + 1 sendok kecil gula 
2)      Makan siang:
1 mangkuk (sederhana) sup mie / bihun dengan udang, daging ayam, sawi dan tauge 
1 biji sederhana buah belimbing
 Air putih
3)      Makan malam:
1 ½ mangkuk nasi 
1 ekor ikan kembung masak kunyit 
½ mangkuk tumis kangkung 
1 iris belimbing besi
Air putih
b.      Contoh menu untuk remaja perempuan (2,100 kilokalori)
1)      Sarapan:
1 mangkuk nasi
½ biji telur rebus
2 ½ sendok besar sambal ikan teri
4 iris timun
1 gelas susu (rendah lemak) + 1 sendok kecil gula
2)      Makan siang:
1 mangkuk (sederhana) mie bihun dengan udang, ayam, sawi ,tauge
1 gelas air putih
3)      Makan malam:
1 ½ mangkuk nasi
1 ekor ikan kembung masak kunyit
½ mangkuk tumis kangkung
1 iris belimbing
Air putih
Untuk menambah asupan energi bagi remaja, diperlukan juga makanan tambahan seperti camilan. Berikut ini adalah contoh menu camilan:
1)      Menu I:
2 biji pastel isi daging
1 gelas susu (rendah lemak) + 1 ½ sendok kecil gula 
1 iris buah pepaya 
2)      Menu II:
2 potong (kecil) kuih lapis
1 gelas susu (rendah lemak) + 1 sendok kecil gula

D.    Gizi Seimbang Pada Usia Reproduksi
1.      Kebutuhan gizi pada usia reproduksi
Kebutuhan energi dan nutrisi remaja dipengaruhi oleh usia reproduksi, timgkat aktivitas dan status nutrisi. Nutrisi yang dibutuhkan sedikit lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan remaja tersebut. Remaja yang berasal dari sosial ekonomi rendah, sumber makanan yang adekuat tidakterpenuhi, dan mempunyai risiko defiensi zat besi sebelum hamil. Pemberian tambahan energi diberikan kepada remaja dengan berat badan rendah. Penambahan energi kepada remaja didapatkan biasanya dengan meningkatkan nafsu makan akan tetapi seseorang remaja sering terlalu memperhatikan penambahan berat badannya. Seorang remaja dapat mengalami peningkatan resiko difisiensi zat besi, karena kebutuhan yang meningkat sebuhungan dengan pertumbuhan (Erna, et all, 2005).
Remaja yang anemia dan kurang berat badan lebih banyak melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan wanita dengan usia reproduksi aman untuk hamil. Penambahan berat badan yang tidak adekuat lebih sering terjadi pada orang yang ingin kurus , ingin menyembunyikan kehamilannya, tidak mencukupi sumber makanannya, dan menggunakan obat- obat terlarang (Erna, et all, 2005).
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi gizi pada usia reproduksi
a.       Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
1)      Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
2)      Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).
3)      Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang  menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Markum, 1991).
4)      Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).
b.      Faktor Internal
Faktor internal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
1)      Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
2)      Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo, 1986).
3)      Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo,  1986).
3.      Prinsip-prinsip gizi seimbang pada usia reproduksi
a.       Untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental serta kesehatan.
b.      Untuk fertilitas atau kesuburan.
c.       Mempersiapkan diri di antaranya mengatur asupan nutrisi yang adekuat untuk meningktkan fungsi reproduksi sehingga dapat menunjang fertilitas atau kesuburan (Neil,2001 ) dengan cara:
1)      Menghindari diet makanan pengendali berat badan.
2)      Memilih makanan sehat dan seimbang
3)      Memilih makanan segar
4)      Mengolah makanan dengan baik
5)      Makanan bervariasi
6)      Menghindari makanan yang mengandung pengawet
4.      Pengelolaan bahan makanan untuk usia reproduksi
Susunan menu sehari terdiri dari menu makan pagi, makan siang dan makan malam dalam bentuk makanan lengkap (nasi, lauk pauk, sayur dan buah). Angka kecukupan gizi wanita usia reproduksi membutukan energi sebanyak 1900 Kkal dan 50 gram protein. Sedangkan untuk anjuran makanan satu hari untuk wanita usia reproduksi membutuhkan 3,5 porsi x 200 gram nasi, 1,5 porsi x 50 gram lauk hewani dan 5 porsi x 25 gram lauk nabati, 1,5 porsi x 100 gram sayur dan 2 porsi x 100 gram buah.
5.      Menu seimbang untuk usia reproduksi
a.       Menu I
Makan Pagi
:
Nasi goreng, telur dadar iris, lalap ketimun, tomat
Selingan Siang (10.00)
:
Bubur kacang ijo
Makan Siang
:
Nasi, pepes ikan, tempe goreng, ayur asem, pepaya
Selingan Sore (16.00)
:
Teh manis, kroket
Makan Malam
:
Nasi, udang goreng, tempe bacem, sayur bening, pisang
b.      Menu II
Makan pagi
:
Nasi, opor telor ayam, tempe goreng
BAB III
PEMBAHASAN

Dari penyuluhan yang kami lakukan pada hari kamis tanggal 25 April 2013 di Desa Prancak Glondong RT 07 pada keluarga Ny.S. Kami melakukan penyuluhan dengan tema gizi seimbang pada balita, pada remaja, dan pada usia reproduksi. Ketika penyuluhan berlangsung kami mengutarakan beberapa materi mengenai gizi dan dilanjutkan sesi tanya jawab.
Ketika penyuluhan gizi remaja oleh saudari N, dia mengatakan bahwa gizi itu memang penting, dia selalu mengkonsumsi makanan sehat seperti susu, roti dan buah. Akan tetapi tidak jarang ia mengkonsumsi fast food seperti mie instan, dalam 1 minggu ia lebih dari 2 kali dalam mengkonsumsi mie instan karena dia sangat senang dengan mie. Padahal mie instan atau fast food sangat buruk bagi kesehatan sesuai dengan kebiasaan makan makanan siap saji (fast food) yang komposisi gizinya tidak seimbang yaitu terlalu tinggi kandungan energinya, seperti pasta, fried chicken, dan biasanya juga disertai dengan mengkonsumsi minuman bersoda yang berlebihan (Sulistyoningsih, 2011).
Selain itu, minuman ini juga banyak mengandung gula sederhana yang sama berbahayanya dengan gula dalam menyebabkan penurunan kepadatan tulang. Masa remaja, merupakan puncak pembentukan tulang (sekitar 40-60%), ada baiknya memilih diet dari whole foods dan minuman yang bebas dari risiko penurunan masa tulang (Putri, 2009).
Tidak hanya itu saja saudari N juga mengerti akan pentingnya sarapan pagi. Saudari N selalu sarapan pagi dan membawa bekal dari rumah ketika ke sekolah supaya makanan yang dia konsumsi sehat dan hemat tuturnya. Akan tetapi saudari N sangat gemuk padahal makan malam itu terutama pada gadis remaja sering terjebak dengan pola makan tidak sehat, menginginkan penurunan berat badan secara drastis, bahkan sampai gangguan pola makan. Hal ini dikarenakan remaja memiliki body image (citra diri) yang mengacu pada idola mereka yang biasanya adalah para artis, pragawati, selebriti yang cenderung memiliki tubuh kurus, tinggi, dan semampai (Sulistyoingsih, 2011).
Saudari N juga mengetahui kebutuhan gizi pada remaja meliputi karbohidrat, protein, mineral, vitamin dan lemak. Semua makanan bagus untuk tubuh seperti sayur, susu, telur. Namun dia tidak menyukai kacang karena dia beranggapan bahwa kacang bisa menimbulkan jerawat. Padahal kacang mengandung bahan yang dapat membina ketahanan tubuh dalam mencegah beberapa penyakit. Mengkonsumsi satu ons kacang tanah lima kali seminggu dilaporkan dapat mencegah penyakit jantung. Kacang tanah bekerja meningkatkan kemampuan pompa jantung dan menurunkan resiko penyakit jantung koroner. Memakan segenggam kacang tanah setiap hari terutama pesakit kencing manis dapat membantu kekurangan zat (Aditya, et all, 2013).
Ketika melakukan penyuluhan gizi pada usia reproduksi oleh Ny. S, ia mengatakan bahwa gizi itu memang dibutuhkan meskipun Ny.S jarang masak, kecuali pada saat libur. Tapi menu makanannya beranekaragaman sehingga akan muncul ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Dengan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang beranekaragam kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga diperoleh masukan zat gizi seimbang. Jadi untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis makanan, melainkan harus terdiri dari beraneka ragam makan makanan (Heryati, et all, 2005).
Tidak hanya itu saja Ny.S pun mengerti gizi yang dibutuhkan setiap hari walaupun sederhana menu makanannya seperti sayuran, susu dan daging. Makan banyak makanan tinggi serat yaitu buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan gandum. Kebutuhan 20-30 gram serat makanan yang di butuhkan setiap hari, akan memperlambat penyerapan karbohidrat. Buah-buahan dan sayuran berwarna hijau, orange, kuning, seperti brokoli, wortel, melon, dan buah jeruk antioksidan dan nutrisi lainnya yang terkandung dapat membantu melindungi terhadap pengembangan beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya. Sedangkan kolesterol hanya ditemukan di produk hewani, seperti daging, unggas, produk susu, dan kuning telur (Oktaviani, 2012).
Ny. S juga mengetahui dalam memasak makanan dibutuhkan waktu yang sedang agar makanan tidak keras juga tidak kematangan dan vitaminnya tidak hilang padahal dalam pengolahan makanan perlu diperhatikan antara lain: beberapa vitamin mudah larut dalam air pencuci sehingga terbuang dan beberapa bagian lagi dapat rusak oleh pemanasan dan sinar matahari. Penanganan bahan makanan sebelum dimasak yaitu membuang bagian yang tidak dapat dimakan seperti bonggol jagung, kulit, biji-biji tertentu, setelah itu dicuci selanjutnya dipotong-potong (Heryati, et all, 2005).
Jika memasak sayur terlalu lama dapat menyebabkan rusaknya nutrisi pada sayur, yaitu masak sayur dalam air mendidih dan angkat saat sayur mulai lembek secepat mungkin untuk menghindari terbuangnya larutan vitamin dan rusak nutrisi sayur (Ardan, 2013). Ny.S juga mengatakan bahwa pagi ia cuma memasak tempe, telur tidak ada sayur bila anak dan suami tidak ada di rumah sedangkan untuk makan siang hanya membeli lauknya sesuka anak-anaknya saja.
Ketika melakukan penyuluhan gizi pada balita ibunya mengerti bahwa gizi bagi anak balita itu penting, gizi pada setiap balita merupakan suatu keharusan karena hal ini sangat berpengaruh pada masa depan si buah hati, terutama pada 5 tahun pertama karena apa yang terjadi selama 5 tahun pertama tersebut sangat menentukan tahun demi tahun pertumbuhan dan perkembangannya (Informasi Kesehatan Ibu dan Balita, 2013).
Tidak hanya itu saja ibunya juga mengerti akan pola makanannya seimbang dan tidak memilih-milih makanan seperti sayur dan daging. Ibunya juga mengatakan bahwa setiap saat memberikan susu sebagai asupan gizi anaknya, namun merek susu yang diberikan ganti-ganti, sering mengganti susu balita juga dapat berisiko timbulnya gangguan pencernaan pada si kecil dan akan membuatnya rewel. Sistem pencernaan balita belum seluruhnya sempurna sehingga sangat sensitif terhadap segala perubahan, termasuk jenis susu formula. Pada sejumlah kasus mengganti susu lama dengan susu baru yang tinggi kalsium menyebabkan balita sulit buang air besar begitu juga sebaliknya, jika si ibu mengganti susu balita dengan susu yang rendah kalsium justru dapat menimbulkan risiko balita kekurangan kalsium dan rentan mengalami anemia (Hariyono, 2011).
Ibunya juga mengatakan bahwa anaknya jarang mengkonsumsi jajanan seperti snack, cokelat selagi kakaknya tidak jajan. Si balita pernah jajan snack kemudian diare, hal ini dikarenakan bumbu yang terdapat pada snack tersebut umumnya mengandung zat yang berbahaya MSG yang bisa mengakibatkan radang tenggorokan, gangguan otak, gangguan ginjal, mual dan sebagainya (Nizami, 2008).
Ibu juga mengatakan bahwa anaknya suka sekali dengan soup terutama wortelnya. Wortel termasuk makanan favorit anak karena memiliki rasa enak, manis dan tekstur yang sangat renyah. Sayuran ini dapat diolah dalam beranekaragam masakan dan dapat juga dijadikan cemilan atau lalapan dalam keadaan mentah. Untuk  perkembangan anak wortel memiliki kandungan nutrisi yang berbagai macam seperti gula, karoten, pectin, apspagin, vitamin A, B, C, D, E, K, serat, lemak, hidrat, arang, kalsium, fosfor, besi, sodium, asam amino, minyak esensial dan beta-karoten. Selain dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan kalsium, masih banyak manfaat yang dapat diperoleh dari wortel diantaranya adalah mengatasi demam pada anak, sembelit, batuk, bahkan sebagai zat anti kanker dan antioksida yang dapat meningkatkan imunitas (Anita, 2010).












BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pada masa balita membutuhkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Apabila gizi pada balita tidak dapat terpenuhi maka akan terjadinya ketidakseimbangan gizi pada balita, seperti kurang gizi maupun kelebihan gizi yang akan membuat pertumbuhannya tidak normal.
Pada remaja memerlukan upaya peningkatan status gizinya, karena remaja membutuhkan zat gizi untuk tumbuh kembang yang optimal dan remaja perlu suplementasi gizi guna meningkatkan status gizi dan kesehatannya.
Pada usia reproduksi membutuhkan gizi yang cukup untuk meningkatkan perubahan komposisi tubuh dan kebutuhan energi, perubahan metabolik, perubahan susunan saraf pusat, perubahan ginjal, perubahan pada kesehatan, ketergantungan pada obat dan perubahan sosial.

B.     Saran
1.      Bagi Keluarga
a.       Bisa menambah pengetahuan dan lebih menerapkan lagi tentang gizi seimbang pada balita, remaja, dan usia reproduksi.
b.      Meningkatkan kesadaran untuk pemenuhan gizi seimbang.
2.      Bagi Mahasiswa
a.       Supaya mahasiswa dapat menerapkan ilmu gizi kebidanan dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Supaya mahasiswa lebih meningkatkan lagi pengetahuan dan keterampilan mengenai gizi yang akan diterapkan di masyarakat ketika menjadi bidan.



DAFTAR PUSTAKA

Aditya, 2012, Kandungan Dan Manfaat Kacang Tanah, permathic.blogspot.com, diakses pada tanggal 29042013 pukul 11.30
Ardian, 2013, Tips Memasak Sayur Yang Baik, http://ardian widayat.blogspotcom, diakses pada tanggal 29042013 pukul 11.10
Berna, 2011, Pengolahan Menu Sesuai Kebutuhan, http://bernaakbidupbptk.blogspot.com, diakses tanggal 23042013 pukul 14.00
Desi, 2013, Kebutuhan Seimbang Usia Reproduktif, Stikim Jakarta
Dewa, 2002, Penilaian Status Gizi, Jakarta: EGC
Erna P.H., 2005, Gizi dalam Kesehatan Reproduksi, Jakarta: EGC
Haryani S, 2011, Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak, Yogyakarta: Graha Ilmu
Haryono, 2011, Berganti-Ganti Susu Formula Bagi Bayi Amankah, www.ibubalita.net, diakses pada tanggal 29042013 pukul 11.15
Haryono, 2011, Nutrisi Penting Bagi Balita, www.ibubalita.net, diakses pada tanggal 29042013 pukul 11.12
Nizami, 2008, MSG Dan Zat Berbahaya Dalam Jajanan Anak, syiarislam.wordpres.com, diakses pada tanggal 29042013 pukul 11.20
Saptawati, 2006, Gizi Sehat Untuk Perempuan, Jakarta: FKUI













LAMPIRAN



SATUAN ACARA PENYULUHAN

Materi Penyuluhan              : Gizi Seimbang pada Balita
Penyuluh                                : Kelompok IVD
Audiens                                  : Keluarga Ny.S
Hari/Tanggal                         : Kamis/25 April 2013
Waktu                                                : 60 menit
Lokasi                                     : RT 07 Prancak Glondong

A.    Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga mengetahui tentang nutrisi dan pengolaan menu makanan yang baik untuk balita.

B.     Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan keluarga dapat:
1.      Menyebutkan syarat penyusunan menu sehat
2.      Menjelaskan manfaat nutrisi untuk balita

C.    Materi
Terlampir

D.    Pendekatan
1.      Berkunjung kerumah ibu untuk menanyakan kesediaaanya untuk dilakukan penyuluhan dan pengkajian tentang gizi seimbang bagi balita.
2.      Berkunjung untuk melakukan kesepakatan kapan dilakukannya pengkajian tentang gizi seimbang bagi balita.

E.     Metode
Metode yang digunakan
1.      Ceramah
2.      Diskusi
F.     Media
1.      Leaflet
2.      Contoh menu makanan

G.    Materi Penyuluhan
MATERI
AUDIENS
METODE
MEDIA
WAKTU
Pembukaan
-          Perkenalan
-          Menjelaskan tentang gizi pada balita
Mendengarkan
Menjawab
-          Ceramah
-          Tanya jawab
Leaflet
15 menit
Inti
-          Menjelaskan pengertian dan manfaat gizi pada balita
-          Menjelaskan faktor yang mempengaruhi gizi balita
-          Menjelaskan syarat-syarat penyusunan menu
-          Menjelaskan cara penyusunan menu
-          Menjelaskan contoh menu makanan


Mendengarkan
Ceramah
-        Leaflet
-        Menu makanan
30 menit
Penutup
-          Memberi kesempatan bertanya
-          Evaluasi
-          Menyimpulkan
-          Salam penutup

Bertanya



Mendengarkan
Salam

Tanya jawab


15 menit

H.    Evaluasi
1.      Evaluasi Struktural
a.       Kesiapan mahasiswa memberikan materi penyuluhan.
b.      Media dan alat memadai.
c.       Setting sesuai dengan kegiatan
2.      Evaluasi Proses
a.       Kegiatan penyuluhan dilakukan sesuai jadwal yang direncanakan
b.      Peserta penyuluhan kooperatif dan aktif berpartisipasi dalam proses penyuluhan
c.       Seluruh mahasiswa berperan aktif selama proses penyuluhan
3.      Evaluasi Hasil
Tanya jawab
Ø  Pertanyaan
a.       Apa saja syarat-syarat menyusun menu yang baik ?
b.      Apa saja manfaat gizi pada balita ?
Ø  Jawaban
a.       Syarat-syarat menyusun menu yang baik yaitu :
1)      Pola menu seimbang
2)      Aspek warna dan kombinasi
3)      Tekstur dan konsistensi
4)      Rasa dan aroma
5)      Ukuran dan bentuk potongan
6)      Suhu
7)      Popularitas
8)      Penyajian menarik
9)      Tenaga dan waktu
b.      Manfaat gizi pada balita.
1)      Sumber energi atau tenaga
2)      Pertumbuhan dan perkembangan
3)      Memelihara jaringan tubuh
4)      Mengatur metabolisme
5)      Sebagai pertahanan tubuh

I.       Daftar Pustaka
Erna, et al, 2005, Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi, Jakarta : EGC
Hariyani, 2011, Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak, Yogyakarta : Graha ilmu
Sintia, 2011, Pengaruh Status Gizi Seimbang Bagi Balita, http://sintiamega.blogspot.com, di akses pada tanggal 22042013 pukul 12.30 WIB
Soekirman, 2000, Ilmu Gizi Dan Aplikasinya Untuk Keluarga Dan Masyarakat, Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Suhardjo, 1992, Pemberian Makanan Pada Bayi Dan Anak, Jakarta : Kanisius
                                                                                








MATERI
GIZI BALITA

A.    Pengertian Status Gizi pada Balita
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Keadaan tersebut dapat dibedakan dengan status gizi kurang, baik, dan lebih (Almatsier, 2001). Anak sehat adalah anak yang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan teratur, jiwanya berkembang sesuai dengan tingkat umurnya, aktif, gembira, makan teratur dan bersih serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kesehatan anak harus didukung dengan pemberian gizi yang sesuai dan seimbang (Suhardjo, 1992).

B.     Manfaat Gizi Untuk Balita
1.      Sumber energi atau tenaga
2.      Pertumbuhan dan perkembangan
3.      Memelihara jaringan tubuh
4.      Mengatur metabolisme
5.      Sebagai pertahanan tubuh

C.    Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Pada Balita
1.      Pendidikan orang tua
Orang tua yang berpendidikan tinggi akan lebih memahami makanan yang baik untuk balita.
2.      Serat makanan
Serat baik untuk kesehatan pencernaan. Anak-anak yang diberi makanan yang berserat akan baik untuk untuk kesehatan dan pertumbuhannya.
3.      Sumber makanan
Tersedianya makanan sangat mempengaruhi status gizi seseorang. Semakin sulit atau jauh mendapat makanan yang mengandung gizi akan semakin sulit juga bagi seseorang untuk mendapatkan makanan yang mengandung cukup gizi atau gizi yang baik.
D.    Syarat-Syarat Penyusunan Menu
Menu sehat adalah menu yang seimbang yaitu yang mengandung semua golongan bahan makanan yang dibutuhkan dengan memperhatikan keseimbangan unsur-unsur gizi yang terkandung didalamnya. Berikut syarat menu yang baik :
1.      Pola menu seimbang
Pola menu simbang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi. Susunan makanan yang dihidangkan dapat memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan umur, jenis kelamin, dan juga aktivitas yang dilakukan.
2.      Aspek warna dan kombinasi
Warna dan kombinasi makanan harus menarik sehingga dapat membangkitkan selera makan namun penggunaan pewarna dan bahabn tambahan makanan juga harus memperhatikan keamanannya dan diutamakan menggunakan pewarna alami.
3.      Tekstur dan konsistensi
Tekstur dan konsistensi makanan yang dihidangkan disesuaikan dengan kemampuan fisiologis dan juga umur. Bentuk makanan bayi, lansia, dan orang yang mengalami gangguan kesehatan khususnya pencernaan akan berbeda dengan orang dewasa pada umumnya. Hidangan balita sampai kelompok dewasa yang tidak memiliki masalah dalam kesehatan harus serasi antara yang basah/mengandung air dengan yang kering.
4.      Rasa dan aroma
Aroma dan masakan yang kuat dikombinasikan dengan makanan yang tidak tajam baunya. Bahan makanan seperti kol harus dikombinasikan dengan bahan makanan segar.
5.      Ukuran dan bentuk potongan
Adanya kreasi dalam bentuk potongan dapat membangkitkan selera makan.
6.      Suhu
Pertimbangkan makanan yang harus di hidangkan panas atau dingin dengan menyesuaikan lingkungan, udara atau iklim. Misalnya sop atau soto lebih enak dinikmati dalam cuaca yang dingin, sedangkan es krim dan soup buah lebih enak jika disajikan dalam cuaca panas.
7.      Popularitas
Hidangan untuk anggota keluarga akan lebih membangkitkan selera makan ketika sesekali disajikan pula hidangan tertentu yang sedang populer dimasyarakat, seperti salad buah, puding buah atau jenis lain yang memang disukai anggota keluarga.
8.      Penyajian menarik
Bila perlu makanan disajikan dengan hiasan, selain itu disajikan dengan keadaan bersih, terhindar dari pencemaran yang dapat membahayakan kesehatan.
9.      Tenaga dan waktu
Jenis hidangan yang akan disajikan disesuaikan dengan peralatan, kemampuan, tenaga dan waktu yang dimiliki oleh ibu/ keluarga.

E.     Cara Menyusun Menu
Cara menyusun hidangan dapat dilakukan dengan mengikuti porsi standar bagi semua kelompok makanan yaitu makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah. Porsi standar makanan pokok adalah 100gr beras, porsi standar lauk adalah 50gr daging (mentah) atau 50gr ikan (mentah), sedangkan nabati menggunakan porsi standar tempe 50gr atau 100gr tahu atau 50gr oncom. Porsi standar untuk sayuran adalah 1 mangkok sayur dengan isi sayuran hijau daun ataun sayuran yang lainnya (Sediaoetama, 2004).

F.     Contoh Menu Makanan
1.    Makan pagi     : Nasi tim, telur dadar, susu, pisang
2.    Makan siang    : Nasi putih, sayur sup, perkedel tahu, ikan lele, papaya
3.    Makan malam  : Nasi putih, santen gurih , tempe goreng, susu, pisang


SATUAN ACARA PENYULUHAN
GIZI PADA USIA REMAJA
                                                                                                                                            
Materi Penyuluhan              : Gizi pada Usia Remaja
Penyuluh                               : Kelompok IVD
Audiens                                 : Keluarga Ny.S
Hari/Tanggal                         : Kamis/25 April 2013
Waktu                                    : 60 menit
Lokasi                                    : RT 07 Prancak Glondong

A.    Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga mengetahui tentang nutrisi dan pengolaan menu makanan yang baik untuk remaja.

B.     Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan keluarga dapat:
1.    Mampu menjaga kesehatan dengan gizi remaja seimbang.
2.    Mampu memperhatikan kebutuhan gizi bagi remaja.
3.    Mampu mengerti cara menyusun menu yang baik.

C.    Materi
Terlampir

D.    Pendekatan
1.      Berkunjung kerumah ibu untuk menanyakan kesediaaanya untuk dilakukan penyuluhan dan pengkajian tentang gizi seimbang remaja.
2.      Berkunjung untuk melakukan kesepakatan kapan dilakukannya pengkajian tenetng gizi pada remaja.



E.     Metode
Metode yang digunakan :
1.      Ceramah
2.       Diskusi

F.     Media
1.      Leaflet
2.      Menu makanan

G.    Materi Penyuluhan
MATERI
AUDIENS
METODE
MEDIA
WAKTU
Pembukaan
-          Perkenalan
-          Apersepsi tentang gizi pada  remaja
Mendengarkan
Menjawab
-       Ceramah
-       Diskusi
Leaflet
15 menit
Inti
-          Menjelaskan pengertian dan manfaat gizi pada usia remaja.
-          Menjelaskan faktor yang mempengaruhi gizi pada remaja.
-          Mejelaskan syara-syarat penyusunan menu.
-          Menjelaskan contoh menu makanan.

Mendengarkan














Ceramah

·   Menu makanan
·   Leaflet

30 menit
Penutup
-          Memberi kesempatan bertanya
-          Evaluasi
-          Menyimpulkan
-          Salam penutup

Bertanya



Mendengarkan
Salam

Tanya jawab


15 menit


H.    Evaluasi
1.      Evaluasi Struktural
a.       Kesiapan mahasiswa memberikan materi penyuluhan.
b.      Media dan alat memadai.
c.       Setting sesuai dengan kegiatan
2.      Evaluasi Proses
a.       Kegiatan penyuluhan dilakukan sesuai jadwal yang direncanakan
b.      Peserta penyuluhan kooperatif dan aktif berpartisipasi dalam proses penyuluhan
c.       Seluruh mahasiswa berperan aktif selama proses penyuluhan
3.      Evaluasi Hasil
Tanya jawab
Ø  Pertanyaan :
a.       Bagaimana cara menyusun menu yang baik?
b.      Sebutkan 3 pesan dasar Gizi Seimbang yang anda ketahui?
Ø  Jawaban :
a.       Cara menyusun menu yang baik yaitu terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah.
b.      Pesan dasar Gizi Seimbang :
1)      Makanlah aneka ragam ragam makanan yang terdiri dari zat tenaga,zat pembangun,dan zat pengatur.
2)      Lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur.
3)      Biasakan makan pagi.

I.       Daftar Pustaka
Erna, 2005, Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi, Jakarta : EGC
Hariyani, 2011, Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak, Yogyakarta : Graha ilmu
























Selingan Siang (10.00)

Gethok lindri, teh manis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar